Bulan: April 2012

sayup

kepada sajak yang terhenti

Sepertinya aku harus melipat kembali
kertas yang kusiapkan sejak malam tadi untuk menggerimiskan namamu, di antara suara sepi yang menggemuruh di ceruk nadi.

Engkau begitu hafal membaca matahari, jemarimu kokoh menunjuk seluruh arah angin, langkahmu kukuh mengundang gemintang. Sedang mataku retak mengintip rembulan dalam pengap usia.

Saat musim merengkuh masa, sebenarnya kita masih di sini. Menyatu dalam do’a, tanpa kata.

Ada satu catatan yang sempat tergurat di ranting2 mawar, aku akan memungutnya besok saat embun mulai menguyup daun.

Sebagai jawaban atas tanya yang berkelindan. Mungkin, rindu adalah layu bunga yang tak harus diratapi atau dimusuhi.

Dan pada akhirnya, sebagaimana aku. apakah engkau juga menunggu janji Tuhan ?

tujuh jum’at

malam
tidak ada bulan
pohon bisu
langit tenang
angin terlelap
hanya air di talang
jatuh sekali sekali
mengabarkan hujan sore tadi
sepasang cahaya lampu minyak
aku membaca firmanMU
terbata – bata

mencintaiMU

adalah sunyi yang abadi !

bayang – bayang

kepada,
yang terkekeh di malam hari
merenung di siang hari
angin kemarau
deru hujan
pucat warna padi
tegak pohon jagung
wangi dahan angsana
tiga tapak jalan menanjak
semua aku berbayang
meski tumpul duri kukuh berseranjang
tetap menohok ke jantung matahari
cinta, takdir, dan tanya..
terhadapmu, aku pinjam suara
untuk menambal nada-nada
di robek kebinalan
dan berlalunya kebiadaban.
di atas puisi
teduhkan jiwa..

bekasi, 5 juli 2007