Ibu, Di Hatimu Aku Tertidur

Ibu,
Aku tak ingin engkau melihat
Di mobil mewah ini darahku mengucur
Bercaknya nyiprat sampai dinding bagasi
Sebab air matamu dan darahku adalah satu

Malam pucat, sepucat rembulan menjelang pagi
Pergi tak berjejak dengan santun

Ibu,
Aku masih bisa merasakan hangat suaramu
Saat berkata :
“Belum tidur, Nak ?
setua ini, kau masih saja menulis sajak!
Untuk apa ?!
Mereka tak butuh sajakmu,
Mereka takkan bahagia dengan sajakmu!
Sajakmu tak bisa membawa mereka ke tanah suci, bukan ?!”

Maaf, ibu.
Aku tak bisa menjawab tanyamu.

Ibu,
Aku tak tahu caranya
Kejam
Membunuh
Menipu
Berkhianat
Berdusta
Mementingkan diri
Tentu saja, itu menyengsarakanku
Sebab aku belum mati
Dan surga masih jauh.

Ibu,
Sampai pada angin yang tak berbunyi
Aku masih saja bernyanyi dalam sajak
Roh ku menari dalam simbol2
Di antara mitos kota2

Ibu,
Rinduku telah memuncak
Dan akan selalu di puncak
Hingga aku tulis sajak ini,
Aku masih saja tidak tahu
Untuk apa aku menulis sajak ?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s