Catatan Sepanjang Jalan

Tiba – tiba aku ingin menulis sajak
Kadang – kadang aku tidak ingin menyelesaikannya
di sini kini sajak tak boleh hidup
Geletar suaraku di pasar
Menggelinding di kerongkongan gedung
Yang ingin membakar angkasa

Bila suatu waktu kau singgah di kota ini
Mampirlah ke kontrakanku
sudah empat bulan belum aku bayar
Tapi,
tak perlu sedih
menghitung jumlah keringatku
Sepiring singkong rebus
Segelas besar teh tubruk
beberapa batang rokok kretek
masih bisa aku suguhkan
Dan tak lupa cerita getirku

Sudah berbulan bulan menganggur
Aku keluar masuk pasar loak menawarkan buku2 yang dipunya
Lalu kemerdekaan tergadai
untuk mengganjal perut yang perih karena lapar
Dompet oh.. dompetku
Hanya KTP lusuh yang akan habis beberapa bulan lagi

Keadilan,
Air yang kita lihat jauh di ujung jalan
Ketegasan tanpa keadilan hanya dongeng
hanya kediktaktoran belaka
biarlah keadilan mati
Siapa yang mencarinya,
ia akan mati
Sebab keadilan adalah kematian

Di sana, di perempatan sana
Orang2 miskin tidur di atas ludah konglomerat yang menganggap
Mereka malas
Mereka manja
Mereka tak bisa apa2
Mereka tak punya daya guna
Untuk apa diperdulikan ?
“salah sendiri” mantera termerdu yang berdengung di ruang berAC

Beberapa malam yang lalu
Aku melukis suara
“aku bukan anjing, aku bukan anjing !!!”
Apa kalian tidak mendengar ??!!
“aku bukan anjing !!!”
Anjing atau bukan?
semua tertidur.

Kata – kata melekat di cangkir kopi
Saatgerimis belum menumpahi tanah
Cahaya hijau hampir melewati garis tengah mataku
Kau bukan nambrudz
Aku bukan fir’aun
Kenapa kita durhaka?
Kita tak sadar bahwa tawa adalah gandum yang segera menjadi roti
Akhirnya kita menangisi tawa2 kita
Pada jam – jam yang kita lewati

Pahlawan,
Kulihat darahmu
di meja billyard
di ranjang lokalisasi
di mall yang wah
di televisi
di gelas bercampur anggur yang disuguhkan pelayan diskotik
di pesta – pesta
di sela2 gigi pejabat bejat
adakah namamu disebut ?
Apalah arti pahlawan untukmu?
Untukku?
Pahlawan adalah ketika kita pulang dari medan perang
Beringas yang bukan untuk kita, tentu.
Sesaat saja dan Sesaat saja.
Setelah itu, biarlah pahlawan menjadi pisau berkarat
melongo di dapur rumah tua
Hanya sebuah monumen yang dingin dan merah
Satu ritual yang biasa saja.

Kita pernah bertemu
di suatu malam yang tak meriah
Kita adalah keheningan yang ditendang terompah jaman
Dikipasi khotbah2 syahdu tentang kejayaan masa depan
Rambut gondrongmu adu cepat dengan waktu
Tak ada yang hilang pada dirimu
Kau utuh
gaya bicaramu
garang tawamu
caramu menggerak – gerakkan rokok di jarimu
juga menepuk – nepuk bahuku
Kita berbincang melupakan waktu

Rasanya
Percuma kita bicara tentang kebenaran
Kebenaran dianggap benar
Bila keluar dari mobil mewah
Bila lahir dari perut yang penuh makanan enak dan mahal
Bila memancar dari perhiasan yang gemerlapan
Bila bernaung dalam rumah megah dan indah
Kita tak bisa protes
Sebab dunia akan meneriaki kita
hidup di hadapan regu tembak
rengekan hanyalah sampah bau dan tak berguna

suara angin merambati jendela
tubuh layu lesu membuat dingin semakin tebal
bulan sabit perlahan mulai bergeser
meninggalkan guratan di reranting pohon mangga
bumi haus ketika langit menganga

Aku ingin sungai
Aku ingin laut
Aku ingin hujan
Aku ingin hutan
Aku ingin lebih sunyi

Doa – doa
Dengarlah doa – doa mereka
“Tuhan, berikan aku banyak rejeki untuk melawanMU”

Lihatlah
Di shaf belakang, iblis berbaris rapi
Mengamini doa mereka !!!

Tuhan, aku tak ingin jauh lagi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s