Catatan Sepanjang Jalan

Tiba – tiba aku ingin menulis sajak
Kadang – kadang aku tidak ingin menyelesaikannya
di sini kini sajak tak boleh hidup
Geletar suaraku di pasar
Menggelinding di kerongkongan gedung
Yang ingin membakar angkasa
…READ MORE

Iklan

Ibu, Di Hatimu Aku Tertidur

Ibu,
Aku tak ingin engkau melihat
Di mobil mewah ini darahku mengucur
Bercaknya nyiprat sampai dinding bagasi
Sebab air matamu dan darahku adalah satu

Malam pucat, sepucat rembulan menjelang pagi
Pergi tak berjejak dengan santun

Ibu,
Aku masih bisa merasakan hangat suaramu
Saat berkata :
“Belum tidur, Nak ?
setua ini, kau masih saja menulis sajak!
Untuk apa ?!
Mereka tak butuh sajakmu,
Mereka takkan bahagia dengan sajakmu!
Sajakmu tak bisa membawa mereka ke tanah suci, bukan ?!”

Maaf, ibu.
Aku tak bisa menjawab tanyamu.

Ibu,
Aku tak tahu caranya
Kejam
Membunuh
Menipu
Berkhianat
Berdusta
Mementingkan diri
Tentu saja, itu menyengsarakanku
Sebab aku belum mati
Dan surga masih jauh.

Ibu,
Sampai pada angin yang tak berbunyi
Aku masih saja bernyanyi dalam sajak
Roh ku menari dalam simbol2
Di antara mitos kota2

Ibu,
Rinduku telah memuncak
Dan akan selalu di puncak
Hingga aku tulis sajak ini,
Aku masih saja tidak tahu
Untuk apa aku menulis sajak ?

Bumi dan Sajak Bulan

Ini waktu ketika wajahku berkalang sinar matahari sore
Aku menulis sajak di pelataran perkantoran
Tanganku berlumuran debu
Kalimat2 aku jejer di aspal panas
Tanda baca kutancapkan di bawah lampu merah
Pohon berdaun huruf2
Tong sampah dipenuhi metafor2 aneh
Papan iklan yang menjengkelkan
Kucing slonjor garuk2 kepala di kolong angkot
Anak anjing berlari sepanjang trotoar
Buaya terbahak menepuk dada
Orang sehabis berpesta,
Bunga2 bergerombol di depan papan ucapan selamat
Yang tergeletak di pintu gerbang
Setelah penaklukan itu !
Warna bersinku jadi jingga,
Suara tawaku berwarna jagung
Di malam hari, rembulan meleleh
Seperti tembaga yang dipanaskan.